Kisah Perbudakan Ratih 05

HUKUMAN DIMULAI

Sekitar setengah jam telah berlalu. Kini mereka kembali mendapatkan Ratih yang menanti dengan setia di tempatnya semula, tidak bergeming. Lisa melangkah mengitari Ratih beberapa kali. Meskipun sudah melihat contoh-contoh dari foto yang disimpan Surya di hardisk-nya, dia masih agak bingung akan memulai dari mana. Melihat kebingungan Lisa itu, Surya berinisiatif untuk memulainya.

“Baiklah, kita mulai saja dengan penobatan dia sebagai budakmu, oke?” cetus Surya. “Seperti kamu lihat, saya sudah menyiapkan beberapa peralatan di sana. Mari kita lihat apa yang dapat kita pergunakan saat ini.” ajaknya sambil beranjak hendak menuju ke tengah ruangan.
Namun Lisa segera menggeleng, “Tidak perlu, Pak Surya!” cegah Lisa yang segera ditukas oleh Surya, “Surya saja, tidak usah pakai Pak! Cukup panggil aku Surya, bukankah sekarang posisimu menggantikannya sebagai istriku?”
“Baiklah.., hmm.., kalau begituu.., bagaimana kalau aku panggil Pa..?” tanya Lisa mesra.
“Itu lebih bagus. Oh ya, apa yang Mama maksud tidak perlu tadi?” tanya Surya meminta penjelasan.

Lisa tersenyum. “Mmm.., Mama pikir.., kita tidak perlu repot-repot, Pa! Biarkan budak kita yang mengambilkannya.”
Kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah Ratih, “Budak?”
Ratih yang sedang tertegun mendengarkan percakapan mesra kedua orang itu, terlonjak kaget.
“Ya, eh, iya, apa Nyonya?” sahutnya menantikan perintah.

Lisa merentangkan kaki dan berkacak pinggang di hadapan Ratih. Meski bibirnya berhiaskan senyuman, namun sorot matanya nyata-nyata memancarkan cemoohan.
“Tuan dan Nyonyamu ini ingin melihat melihat apakah ada di antara perlengkapan di sana itu yang pantas untukmu.” Kalimat itu begitu menusuk hati Ratih.
“Hmm., sebagai majikan yang baik, tentu saja kami tak ingin kulitmu polos tanpa sehelai benang pun. Sepertinya kami akan dapat memilihkan sesuatu yang sesuai untukmu, benar begitu, Pap..?”
Surya mengangguk membenarkan sambil turut tersenyum.
“Budak yang baik tentunya akan dengan senang hati melayani Tuan dan Nyonyanya, iya kan..?”

Tanpa memiliki pilihan lain, Ratih mengangguk. Lisa tampak puas.
“Pintar..! Nah, kalau begitu mau kan mengambilkan semuanya ke sini?”
“Baik Nyonya!” sahut Ratih patuh, penuh kepasrahan.
Dia segera bangkit melaksanakan titah. Tubuhnya bergidik ngeri ketika mengangkat tumpukan perlengkapan tersebut. Dia harus bolak-balik hingga dua kali untuk memindahkan seluruhnya. Setelah itu dia duduk bersimpuh di hadapan mereka.

“Ck, ck, ck..!” Lisa berdecak kagum melihat kepatuhan Ratih dan kelengkapan peralatan yang telah dipersiapkan Surya.
“Aha.., sepertinya ini akan cocok untukmu!” katanya sambil memungut rantai anjing, “Coba kita tes!”
Lisa mendekati Ratih dan membelitkan sabuk kulit pada ujung rantai tersebut ke leher Ratih, lalu mengancingkannya.
“Bagaimana, Pa? Bagus..?” tanyanya sambil menarik rantai tersebut hingga kepala Ratih terdongak ke atas.
“Tentu saja, Sayang! Itu memang sudah sepatutnya.”
“Papa tahu, kenapa Mama pilih yang ini?” tanya Lisa disambut gelengan kepala Surya.
Lisa menyeringai penuh ejekan, “Mama sengaja memilihkan ini, karena Mama sangat terkesan dengan kepatuhan budak kita ini. Mama ingat-ingat, kayaknya yang paling patuh dan setia di dunia ini, kok ya hanya anjing. Jadi sebagai hadiah untuk kepatuhan dan kesetiaannya itu, Mama memilih untuk menghadiahkannya kalung ini.”
Ratih betul-betul merasa terhina. Tega benar wanita itu merendahkan dirinya, bahkan dipersamakan dengan binatang, anjing lagi! Dan Surya sama sekali tidak menunjukkan keberatannya.

“Mirip enggak, Pa?” tanya Lisa lagi.
“Tentu..! Ha, ha, ha.. Mama pintar sekali! Kita memang harus memberikan hadiah yang pantas untuk kesetiaannya. Rantai itu akan selalu mengingatkannya pada posisinya!” Surya membenarkan.
“Bagaimana, Budak! Kamu suka?”
Ratih diam dalam kebingungannya pada pertanyaan Lisa itu. Dia paham benar bahwa mereka sengaja sedang mempermainkannya. Jadi mereka bukan mengharapkan jawaban yang sesungguhnya, melainkan jawaban yang dapat memuaskan rasa berkuasa mereka. Dan kalau ingin selamat, maka dia harus memberikan yang mereka minta.

“He, jawab! Apa kamu bisu?” bentak Surya.
“Eh, ya.., ya, suka! Mmm.., ya! Iya, iya.., saya suka.” Air matanya kembali meleleh menghadapi ketidakberdayaannya, “Apa saja yang Tuan dan Nyonya suka.” sahutnya terbata-bata.
“Ha ha ha..! Dia suka, Ma! Ha, ha, haa..! Dia suka! Dia suka menjadi anjing, ha, ha, ha..!” Surya tertawa girang mendengar jawaban itu.

Lisa turut tertawa dan mengelus-elus kepala Ratih. “Kalau begitu bilang apa..?” tanyanya.
“Terima kasih, Nyonya.., terima kasih!”
“Ha, ha, ha..!”
“Aku jadi ingin jalan-jalan. Oh, iya, aku kan belum mengenal rumah ini.” Lisa kembali berkata setelah tawa mereka reda.
Dipungutnya pemukul nyamuk dan mengibas-ngibaskannya di udara.
“Ayo, budak yang baik, mau kan kamu menunjukkan ruangan-ruangan rumah ini kepada Nyonyamu?”
Ratih mengangguk dan bangkit hendak menunjukkan jalan.

“Et, et, et.., tidak!” sergah Lisa, “Tidak begitu! Tidak usah berdiri. Mana ada anjing jalan berdiri?” larangnya.
Dengan menahan rasa perih di hati, Ratih mulai merangkak ke arah dapur. Namun Lisa menarik ujung rantai di tangannya, sehingga lehernya agak tercekik. Ratih berhenti dan memandang Lisa dengan bingung.
“Bukan kesitu! Pertama-tama aku ingin ke kamarku dulu. Ayo, tunjukkan yang mana kamarku!”
“Maksudnya?” tanya Ratih sambil memandang Surya.
“Kamar yang biasa aku tiduri, Goblok! Bodoh banget, sih! Tentu saja Nyonyamu akan tidur di kamar Tuanmu!” tandas Surya.

Ratih lalu melangkah menuju kamar tidurnya selama ini. Lisa mengikuti di belakangnya sambil terus memegang ujung rantai itu, diiringi Surya. Tangan kiri Surya memeluk pinggangnya dengan mesra. Lisa tersenyum dan balas memelukkan tangan kanannya ke pinggang Surya.

Setelah tiba di kamar, Lisa melangkah mendekati meja rias. Dia menyalakan lampu di meja tersebut, kemudian duduk. Diperiksanya satu per satu perlengkapan rias milik Ratih. Ketika dia melihat sisir yang tergeletak di meja itu, dia mendapat ide dan menarik rantai di leher Ratih. Ratih bergerak mendekat. Lisa mengambil sisir tadi dan juga baby oil, lalu berpindah ke belakangnya. Ditekannya pundak wanita itu ke lantai, sehingga pantatnya menyembul tinggi di belakang, menungging.

Kemudian dengan menamparkan kakinya ke paha bagian dalam Ratih, dia menyuruhnya mengangkang. Lisa membalik pegangannya pada sisir itu, sehingga tidak lagi memegang gagangnya. Selanjutnya dia membungkuk di dekat pantat Ratih, membuka tutup botol baby oil dan menuangkan beberapa tetes ke gagang sisir, dan beberapa tetes juga ke anus Ratih.

“Ini akan membuatmu semakin mirip!” kata Lisa sambil memasukkan gagang sisir itu ke lubang anus Ratih.
Ratih menggeliat sakit, namun karena telah dilumuri baby oil, benda itu dapat lolos masuk tanpa terlalu banyak hambatan.
“Nah! Bagaimana Sayang?”
“Kamu memang pintar, Sayang!” sahut Surya, kemudian melanjutkan pada Ratih, “Kamu sebaiknya berhati-hati agar ekormu itu tidak lepas, atau..”

“Tenang Pa, dia pasti akan menjaga ekornya dengan sangat baik, bukan begitu Budak?” Lisa menimpali.
“Iya Nyonya!” sahut Ratih.
“Hmm.., kamu senang kan diberikan ekor?”
“Tentu saja.., Nyonya, saya senang. Terima kasih, Nyonya..!” sahut Ratih terbata-bata penuh pertentangan di batinnya.
“Bagus!” sahut Lisa dingin, “Sekarang mari kita teruskan ke ruang lain!”

Mereka kembali melangkah menyusuri setiap ruangan. Namun kini Ratih mengalami kesulitan dengan gerakannya, karena setiap kali dia melangkah, terasa ada benda keras yang mendesak-desak anusnya. Surya dan Lisa menyadari keadaan itu, dan mereka tertawa geli setiap kali ekor buatan itu bergoyang.

Setelah melangkah beberapa saat, sisir itu terlepas dari tempatnya. Lisa marah besar dan menyabetkan pemukul nyamuk di tangannya ke kedua gundukan pantat Ratih berkali-kali. Ratih menyembah-nyembah memohon ampun, dipungutnya sisir itu dan dipasangkan kembali ke tempatnya semula sambil menekannya dengan dalam agar tidak terlepas lagi.

Kini mereka berada di teras belakang. Di atas tanah di halaman belakang itu tampak tiang jemuran. Di sudut kiri teras terdapat mesin cuci, dan di sudut kanan terdapat meja setrika. Lisa mengarahkan Ratih menuju ke mesin cuci. Di dekatnya itu ada keranjang kecil yang penuh berisi penjepit pakaian, terbuat dari plastik. Surya memandangi jepitan itu dengan serius, melirik ke arah Ratih. Kemudian dia kembali memandangi jepitan itu sambil mememencet-mencet gagangnya. Mendengar suara jepitan itu, Lisa menoleh kepada Surya.

“Kenapa, Pa?” tanyanya heran.
“Hmm.., enggak. Papa cuma sedang memikirkan ini.” sahut Surya sambil menunjukkan jepitan yang dipegangnya.
Dia diam beberapa saat, kemudian melanjutkan, “Gimana ya, bisa enggak ini dipakai?”
Lisa mengembangkan senyum menangkap maksud Surya, “Oh, maksud Papa seperti yang di foto tadi itu?” sahutnya manis. “Bisa, dong! Kita coba saja, bagus apa enggak.”
“Sakit banget enggak ya, Ma?”
Lisa mengambil sebuah, dan mencoba pada pergelangan tangannya sebelah dalam, namun segera dilepaskan kembali sambil mengaduh, “Aduh! Lumayan juga, Pa! Di tangan saja sudah sakit kok, apa lagi kalau di susunya.”

Ratih merinding mendengarkan percakapan mereka yang merencanakan untuk menyiksanya dengan penjepit jemuran itu. Di payudaranya lagi! Sudah terbayang olehnya rasa sakit yang akan menimpanya. Dia tahu benar, bahwa sebentar lagi itu akan benar-benar terjadi, walaupun dia sangat berharap semoga mereka hanya sedang menakut-nakutinya saja.
“Yah, siapa tahu?” pikirnya dengan harap-harap cemas.
Tapi ternyata harapannya meleset. Apa yang dia khawatirkan ternyata benar-benar terjadi.

“Budak! Tuanmu mempunyai hadiah menarik untukmu!” seluruh persendian Ratih terasa lemas mendengar vonis yang telah dijatuhkan.
Sambil tersenyum manis Lisa menyodorkan dua buah jepitan kepadanya.
“Coba, pasangkan masing-masing di tetekmu!”
“Aduh! Ja, jangan Nyonya.. Sakit..!” protes Ratih gemetaran.
“Ayo..!”
Ratih menggeleng berulang-ulang sambil menelungkupkan telapak tangan menutupi kedua payudaranya, “Jangaann.., ampun, Nya.., aduh, ampuunn..!”
“Berani kamu membantah, Budak?” kini suara Lisa terdengar dingin penuh ancaman.
“Ampun, tidak berani, Nyonya! Aduh, tapi sakit, Nya..!” rengeknya ketakutan.

Lisa kembali tersenyum dibuat-buat. “Tapi ini perlu untuk penampilanmu, biar lebih menarik!” bujukannya terdengar begitu mencemooh.
“Sakit sedikit.., enggak apa-apa, kok.., enggak berdarah.” desaknya.
Sikapnya bagaikan seorang ibu yang sedang membujuk anak kecilnya untuk minum obat puyer yang pahit.
“Sakit, Nya, yang lain saja, jangan itu..!” Ratih terus merengek.
“Alaahh.., enggak apa-apa! Ayo cepat!” Surya turut mendesak.

Namun Ratih tetap saja menggeleng-gelengkan kepala sanbil memohon ampun, menolak melakukannya. Akhirnya Lisa kehabisan kesabaran, dan membentak, “Sudah! Jangan membantah lagi! Pokoknya kamu harus memakainya! Soal sakit, itu urusanmu! Sekarang cepat lakukan, atau aku yang akan memasangkannya! Kalau sampai aku yang melakukannya, maka semuanya akan kupasangkan di tubuhmu tanpa sisa!” ketusnya, “Sekarang bagaimana, mau aku yang melakukannya?” ancam Lisa sambil menggerakkan tangan menjamah keranjang itu.

“Jangan, Nyonya!” cegah Ratih.
“Baiklah! Akan aku lakukan, biar kulakukan sendiri saja, Nyonya!” mohon Ratih sambil menjulurkan tangannya.
Lisa tersenyum menang. Ratih memungut sebuah penjepit, dan dengan menahan napas dipasangkannya di dada kirinya.
“Bukan di situ!” larang Lisa, “Di putingnya!”
“Oghh..!” erang Ratih menahan sakit ketika dia telah memindahkannya tepat pada puting kirinya. Tubuhnya menggelinjang beberapa saat.
“Teruskan! Yang sebelah lagi!”

Dengan membelalakkan mata menahan sakit dan ngeri, dipungutnya yang sebuah lagi, dan memasangkan di puting sebelah kanannya. Anak sungai di kedua pipinya kembali mengalir. Kedua telapak tangannya digenggamkan di sekitar payudaranya, berusaha mengurangi rasa sakit akibat jepitan itu. Beberapa saat kemudian dia mulai dapat mengendalikan perasaannya, dan menyadari betapa kedua orang itu sedang berpelukan mesra sambil tersenyum-senyum menikmati penderitaannya. Sungai mengalir kian deras.

“Hentikan! Cengeng! Baru dua saja sudah nangis, bagaimana nanti kalau kupasangkan semuanya?”
Bentakan Lisa begitu mujarab menghentikan tangis Ratih. Lisa dan Surya kemudian mengulurkan tangan menjamah kedua jepitan itu dan mempermainkannya. Ratih menggeliat kesakitan. Dikepalkan kedua tangannya sambil menegangkan badan mencoba untuk bertahan.

Tiba-tiba Lisa tersentak, “Oh iya! Puting dan pantatmu sudah dihias, tidak adil kalau yang satu itu tidak mendapatkan bagian.” katanya seraya memungut dua penjepit lagi, lalu membungkukkan badan dan memasangkannya pada masing-masing bibir vagina Ratih.
Seringainya kian buas menyaksikan tubuh Ratih yang bergetar hebat menahan rasa perih yang teramat sangat.

Tidak cukup sampai di situ, Lisa kembali mengambil sebuah jepitan, dan kali ini memasangkannya tepat pada kelentitnya. Tubuh Ratih berguncang hebat. Kedua kakinya merenggang-renggang kejang. Pandangannya berkunang-kunang. Hampir saja dia roboh kalau rantai di lehernya tidak ditarik oleh Lisa untuk menahan tubuhnya. Perlahan Lisa mengendurkan rantai itu sedikit-sedikit, sehingga Ratih dapat menurunkan tubuhnya duduk mengangkang di atas lantai.

Dia merasa serba salah, entah bagian mana yang harus diusap-usap untuk mengurangi sakitnya, karena baik atas maupun bawah keduanya sama berdenyut-denyut mengantarkan penderitaan yang maha berat. Sempat terlintas pikiran untuk mencabuti jepitan itu, namun kesadarannya akan ancaman Lisa menyebabkan dia membatalkan niatnya.

Bersambung ke bagian 06

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s